Internasional · Opini
Halusinasi Antartika, Realitas Palsu Dunia Maya
Maya yang kumaksud berakar dari bahasa Sanskerta: sebuah gagasan tentang ilusi dan penampakan, ketika sesuatu hadir seolah nyata, sementara hakikatnya tersembunyi di balik apa yang terlihat
Oleh Rahmat Saleh Butarbutar · 23 Agustus 2026, 23:38 WIB · 212 dibaca
Di tengah hamparan es Antartika yang membeku dan membisu, whiteout—sang ilusi sensorik kutub—membuka sisi tersembunyi dari persepsi manusia: ketika realitas kehilangan batas, pikiran mulai mencari bentuknya sendiri.Saat langit dan dataran es melebur dalam putih yang nyaris sempurna, mata kehilangan titik-titik acuan visual. Otak—yang terus berusaha memahami kekosongan informasi—mulai menafsirkan apa yang tak lagi terlihat dengan jelas. Bentuk samar dapat terasa nyata, jarak kehilangan kepastian, dan persepsi perlahan mengisi ruang yang ditinggalkan oleh indra.
Maya yang disebutkan bukan berhijab anggun dalam kesederhanaan, beralis indah, bermata teduh, dengan senyum menggoda yang menerbangkan hatimu jauh melayang, seolah kau raja pungguk yang akan terbang ke bulan.
Bukan juga Maya yang ditembangkan biduan legendaris Meggy Z; tentang rindu dan cinta yang menyatu dalam visualisasi dua dimensi, menggantungkan harapan pada sosok Maya yang begitu didambakan, tetapi ujungnya hanya khayalan.
Maya yang kumaksud berakar dari bahasa Sanskerta: sebuah gagasan tentang ilusi dan penampakan, ketika sesuatu hadir seolah nyata, sementara hakikatnya tersembunyi di balik apa yang terlihat. Sebuah ruang tanpa pijakan, tempat persepsi dapat perlahan menjauhkan kesadaranmu dari realitas yang sebenarnya.
Paragraf baru...